Breaking

Senin, 17 Januari 2011

Uniknya Menu Betawi 'Blasteran'

Soto Betawi (Foto: Hidupgaya)
MASAKAN Betawi sangat bervariasi, baik bentuk maupun rasanya. Tak hanya yang orisinal, makanan Betawi juga ada yang memiliki cita rasa internasional karena terjadinya perpaduan bumbu.

Seperti warganya, masakan Betawi juga bisa dikatakan heterogen. Arus masuk warga luar Jakarta yang notabene merupakan ”kampung halaman” suku Betawi, sedikit-banyak telah membawa pengaruh pada cita rasa masakan di kota yang dulu bernama Batavia ini. Pengaruh itu antara lain datang dari bangsa China, Arab, Belanda, dan Portugis, belum lagi influence dari suku lain di Indonesia yang memang banyak terdapat di Jakarta.
 
Menurut celebrity chef Rudy Choirudin, cita rasa masakan Betawi yang menonjol umumnya adalah gurih dan sedap. Walaupun banyak jenis makanan masuk ke Jakarta, tetapi masakan Betawi mempunyai ciri khas turun-temurun. ”Kebanyakan orang Betawi sangat menggemari masakan nenek moyang mereka sehingga banyak sekali masakan Betawi yang masih bertahan sampai sekarang, bahkan berkibar dan menjadi salah satu simbol budayanya,” kata Rudy.
 
Anda tentu kenal kerak telor, ketoprak, asinan, dan laksa. Makanan asli Betawi tersebut seakan telah menjadi signature menu buat para pencinta kuliner. Selain itu, masakan Betawi juga ada yang terpengaruh oleh daerah asal kemunculannya. Ambil contoh, kata Rudy, soto betawi yang ada di kawasan Jakarta Pusat dan sekitarnya. Soto betawi di sana banyak yang berwarna putih kekuning-kuningan dengan aroma yang harum dan lezat. Sementara di wilayah Jakarta Selatan dan sekitarnya, umumnya soto betawi berwarna sedikit kemerahan, bahkan ada yang sedikit kekuningan.
 
”Tapi yang pasti, nenek kita dulu telah menciptakan soto betawi dengan aroma, rasa, serta kelezatan yang setara,” imbuh juru masak yang pernah memandu program Resep Oke Rudy di RCTI itu.
 
Nah, jika Anda kreatif, soto betawi juga bisa lho dipadukan dengan bumbu-bumbu India. Chef Deden Gumilar pernah membuat perpaduan itu dan disuguhkan kepada tamu Hotel JW Marriot Jakarta, beberapa waktu lalu. Menurut Deden, soto betawi ”blasteran” yang dibuatnya mengandung bumbu perpaduan Betawi- India. Perpaduan bumbu tersebut dapat dilihat pada kuahnya yang menggunakan susu serta minyak samin. Kuah seperti itu merupakan kuah khas India.

Satu lagi menu Betawi ”blasteran” yang diperkenalkan Chef Deden kala itu, yakni pastel tutup. Pastel satu ini konon memiliki cita rasa khas Inggris. Berbeda dengan pastel pada umumnya yang dikonsumsi sebagai makanan selingan atau camilan, pastel tutup justru masuk dalam kategori menu utama. Di Inggris, menu ini sering disebut meat pie dan disajikan dengan kentang, baik kentang panggang maupun goreng.
 
Menu pastel tutup berisi daging sapi cincang yang disatukan dengan sayuran semisal wortel dan jamur. Jika dilihat dari bentuknya, sekilas pastel ini tampak seperti lasagna.
 
Rasa menu ”blasteran” lain bisa didapat pada ayam kodok. Tak seperti namanya, menu ini bukanlah perpaduan daging ayam dengan daging katak. Melainkan menu yang terbuat dari ayam yang diisi dengan olahan daging ayam cincang serta dicampur bahan dasar lain seperti telur rebus.
 
”Kenapa namanya ayam kodok? Karena ini adalah menu ayam yang diisi hingga penuh dan over sehingga perutnya menggelembung persis seperti kodok,” kata Chef Daniel Firmanto.
 
Daniel menjelaskan, ayam kodok berasal dari Eropa karena menggunakan buncis dan kentang goreng layaknya bistik. Hanya, menu serupa ini di sana dikenal dengan nama chicken ballon thin. Di Eropa, chicken ballon thin kerap disajikan dalam keadaan dingin.

”Di Indonesia sendiri menu ini sering ditemukan sebagai sajian khas Betawi dengan beragam variasi isi,” ungkap chef yang menyelesaikan sekolah perhotelan di Bali itu.
 
Proses pembuatannya bisa dikatakan rumit bagi Anda yang belum lihai mem-filet ayam. Yang harus diperhatikan adalah, ayam yang dipilih mesti segar dan mulus. Yang terpenting juga, saat memfiletayam, usahakan tidak ada luka karena itu akan merusak tekstur ayam yang ingin disajikan.
 
”Pisau menjadi alat yang utama. Sebab, jika pisaunya tepat, proses filet tidak akan membutuhkan waktu yang lama. Cukup 15–20 menit saja,” ungkap Chef Daniel.

Soal rasa,jangan ditanya.Ayam kodok mempunyai rasa yang cukup lezat karena penyajiannya menggunakan saus layaknya bistik. Kelezatan menu ini juga didukung oleh isinya yang sangat lembut, yakni ayam giling.
(SINDO//tty

Informasi dan Tip Seputar Usaha Kecil

Tidak ada komentar:

Posting Komentar