Gonggong (Foto: Ist)
DI Kepulauan Riau, gonggong merupakan makanan khas yang sekilas mirip dengan keong. Dalam bahasa latin, gonggong dikenal sebagai Strombus Canurium (ganus) dan masih tergabung dalam famili atau rumpun molusca.
Makanan khas ini merupakan sejenis kerang-kerangan yang banyak terdapat di perairan sekitar Kepulauan Riau. Karena itu, gonggong hanya tersedia di beberapa restoran makanan laut atau di tempat pusat jajan. Masyarakat Tanjung Pinang menyebut tempat tersebut dengan nama Akau (open air restaurant). Lokasinya sendiri berada di kawasan Potong Lembu.
Tidak diketahui pasti kapan gonggong menjadi makanan khas dari kepulauan yang dahulu disebut Negeri Segantang Lada ini. Namun, bagi masyarakat Kota Tanjung Pinang, makanan ini sudah dikenal sejak era tahun 1950-an, sejak daerah ini masih menggunakan mata uang dolar Singapura.
Dari sekian banyak penjual gonggong, salah satu yang sangat terkenal adalah Lek Ah Sun (67), pria keturunan Tionghoa yang lahir dan besar di Tanjung Pinang ini mulai berjualan sejak awal 1960 di Akau Jalan Pos Tanjung Pinang. Tapi seiring ditetapkannya Tanjung Pinang menjadi Ibu Kota Kepulauan Riau, ia mulai berpindah-pindah, dan kini membuka warung tenda di Akau Potong Lembu.
Menariknya, warung tendan Lek Ah Sun, hanya buka saat sore dan tutup saat tengah malam. Kenapa tidak siang? Sebab, pada pagi hingga petang lokasi Akau Potong Lembu dipakai sebagai tempat parkir mobil truk angkutan barang.
Saat dibuka, warung tenda miliknya hanya diisi selembar meja yang dilapisi aluminium berukuran 3 x 2 m. Untuk menjaga jika hujan turun, pada sisi dan kanan meja tersebut ditancapkan sebatang kayu penyangga tenda. Di tengah tenda sendiri dipasang sebuah lampu neon berkekuatan 10 watt.
Sementara di depan meja dipajang sederetan gonggong yang masih mentah dalam piring lonjong melamin. Setiap piring terisi 20 gonggong. Dan pada sisi sebelah kiri meja , terdapat kompor gas minyak tanah yang diatasnya sudah didudukkan panic berdiameter 40 cm untuk merebus gonggong.
“Waktu pertama pindah di Akau Potong Lembu, dagangan gonggong saya laris. Satu malam sampai menghabiskan 50 piring. Karena waktu itu belum banyak orang yang berjualan gonggong disini. Tapi sekarang sudah banyak yang jual, satu malam saya hanya bisa jual 10 piring saja.” ujar Lek Ah Sun.
Untuk membuat gonggong, Lek Ah Sun merebusnya dengan keranjang bambu. Namun sebelum itu, air rebusan terlebih dahulu dibubuhi garam dan jahe. Ini untuk mengurangi bau amis pada gonggong. Setelah itu, dalam hitungan menit, gonggong akan matang. Kematangan ditandai dengan keluarnya kaki gonggong dari cangkangnnya.
Gonggong kemudian dihidangkan bersama semangkuk kecil sambal. Tapi sebelum dihidangkan, Lek Ah Sun menaburi sajian ini dengan tumbukan kacang tanah dan beberapa batang tusuk gigi. Tusuk gigi tersebut diperlukan untuk mencongkel daging gonggong dari cangkangnya.
Untuk satu porsi gonggong, Lek Ah Sun mematok harga Rp20 Ribu dengan perhitungan satu ekor gonggong dihargai seribu rupiah.
Tak hanya lezat, kandungan gizi yang dimiliki gonggong juga tinggi. Hal ini diakui oleh Akin (32) salah satu pelanggan Lek Ah Sun.
“Manfaat gonggong yang paling baik adalah bagi orang-orang muda karena dagingnya mampu merangsang pertumbuhan hormon, terutama yang menyangkut dengan vitalitas seksual,” ujarnya.
Keberadaan hidangan gonggong tak lepas dari peran para nelayan di beberapa wilayah Kepulauan Riau. Dari pantai, nelayan mengumpulkan gonggong untuk kemudian dijual ke restoran atau kepada Lek Ah Sun. Mereka mengumpulkan gonggong ini secara musiman dan dilakukan tatkala air laut surut.
Menurut salah seorang nelayan, Chidir (31), pada musim gonggong dirinya bisa mengumpulkan 100-200 ekor setiap harinya. Namun jika tidak sedang musim, ia hanya dapat mengumpulkan gonggong 30 ekor saja.
Chidir kemudian menyebut ada 4 jenis gonggong yang semuanya dapat dikonsumsi. “Mulai gonggong ayam (sebutan nelayan) berukuran kecil dan berwarna hitam, gonggong cangkang tipis berwarna putih, gonggong bercangkang tebal warna putih, dan gonggong merah bercangkang tebal, yang keseluruhan jenis itu dapat dimakan,” ujar Chidir yang tinggal di Kawasan Teluk Keriting, Tanjung Pinang.
Cerita diintisari dari buku “Jejak Kuliner Indonesia” oleh JNE.
(tty
Tidak ada komentar:
Posting Komentar